Friday, 16 October 2015

Masih tentang ibu

Ini tulisan, dibuat beberapa tahun laloe.
Udh ga ingat tahun berapa, males juga ngecek di laptop...
Udh lama lah pokoke nya

Ini nih,
Dibaca denga seksama yah :D

bismillah...
assalamu’alaikum wr wb
dimalam penuh bintang, didepan to-chi yang ku bentang.
Aku adalah manusia paling beruntung didunia. yang lahir dirahim seorang ibu terhebat sejagat raya. Agak lebai sih... tapi, emang seperti itulah adanya .

Ibu, malam ini bukanlah malam “hari ibu”
Bukan pula malam ulangtahunmu...
Juga bukan malam minggu :p

Disudut ruang tamu ini, dirumah kita, aku berusaha menghidupkan lepi yang (mungkin) udah lebih dr 10hr tdk aku nyalakan. Dengan penuh perjuangan aku mencari cokan yang cukup panjang untuk bisa memasang charger tochi, dan alhamdulillah aku berhasil, sehingga aku bisa menulis ini , bu...
#gagal fokus
Paraghraf diatas hanyalah suatu intermedzo sadja... agar pembaca ga keburu terharu dengan apa yang aku tuliskan nanti... hahaha PD amat gw yah :D siapin tisu dlu gih sah :p

Ibu... terimaksih atas segala cinta dan kasih sayang mu. Terimakasih atas segala limpahan perhatian tulus yang ibu berikan. Terimakasih atas kesabaran dan pengorbanan mu selama ini.. terimaksih untuk segala hal bu... sungguh, ucapan terimaksih ini tak akan sedikitpun dapat membalas semua jasa-jasamu.

Seorang lelaki sedang thawaf dengan menggendong ibunya, maka laki-laki itu bertanya kepada Rasulullah SAW , “Apakah dengan ini saya telah melaksanakan kewajiban saya kepadanya?”, Rasulullah SAW menjawab , “Tidak! Tidak sebanding dengan satu kali hentakan (saat melahirkan)!”. (HR.Al-Bazzar).

Sahabat... mari kita renungkan, bahkan dengan menggendong ibu dalam keadaan thawaf sekalipun kita takkan pernah mampu membalas jasa-jasanya. Tak kan ada budi yang dapat membalas cinta dan kasih seorang ibu. Dan jangan pernah berharap untuk dapat menandingi besarnya jasa ibu. Karena jasa-jasa ibu itu tidak akan pernah tertandingi.

Dimalam ini, sungguh menyayat perih hati ini ketika teringat bahwa masih ada sebagian teman-teman yang (mungkin) orang tuanya terkhusus ibunya telah tiada. Bahwa senyuman ibu tak dapat lagi terlihat didepan mata, saat dimana tak ada  lagi belayan lembut dan bisikan nasihat indah yang terdengar ditelinga. Bagaimana mungkin aku sanggup yaa rabii... sungguh tak mampu aku bayangkan ketika hal itu terjadi padaku, hamba-Mu yang masih belum siap dalam keadaan seperti itu. Aku masih sangat membutuhkan mu, bu.

Allah ,,, jaga ibuku.. sayangi ia.. belai lembut dan dekapi segala do’anya. Ia telah merawatku dari kecil hingga besar ini dengan cintanya, menuntunku untuk mengenal-Mu, mendo’akan aku sehingga memberikan aku nama “Istiqamah” dengan penuh harap bahwa aku akan senantiasa istiqamah dalam menegakkan AgamaMu Yaa Rabb. Selamatkan ia dunia dan akhirat Yaa Allah . Beri aku kekuatan untuk senantiasa berbakti kepada ibu. Beri aku waktu yang cukup untuk bisa membahagiakannya demi ridho-Mu.

Sungguh, tadinya aku bingung untuk mengawali tulisan ku ini (apalagi mengakhirinya -__-“)  Teramat banyak kebaikan-kebaikan mu bu yang tak bisa aku sebutkan satu persatu dalam tulisan ini bu. Cukuplah Allah, Rasul dan orang-orang beriman yang melihat semua ini bu.

Aku mencintai ibu, dan aku juga tau bahwa ibu sangat menyayangi aku .
Semoga Allah tidak hanya mengumpulkan kita di dunia yang fana ini bu, dunia yang sementara dan persingahan ini saja, tapi mengumpulkan kita bersama seluruh keluarga kita hingga ke Syurga Firdaus-Nya. Berkumpul bersama Rasulullah, istri, keluarga,sahabat2nya serta cita2 teringgi untuk berjumpa dan melihat wajah-Mu Yaa Rabbi. Allahuma AAMIIN







No comments:

Post a Comment