Ayah, aku mencintaimu :) . Aku tak tahu harus memulainya dari mana . karena rangkaian kata
tak kan pernah mampu menyampaikan sejuta
rasa yang ada. Kata hanya sebagai tanda bahwa kisah itu pernah ada. Namun, tak
mengapa. Akan aku coba menyampaikan lebih dari sejuta asa yang kurasa. melalui
kata sedehana, dengan penuh cinta dari ananda untuk ayahanda.
Ayah, aku mencintaimu :) . Anak gadismu kini sudah duduk dibangku
kuliah, semester 7 yah :) terimakasih atas segala
do’a-do’a tulusmu. Hingga kini, aku telah dewasa (dewasa menurut definisi is sendiri yah,
hehe)
Ayah, aku mencintaimu :) . Izinkan aku untuk sedikit mengenang salah satu kisah indah tentang kita melalui
rangkaian kata sederhana ini. kisah dimana aku harus tersenyum bahagia tuk membangkitkan
ingatanku kembali. Karena ada cinta disetiap kisah kita. cinta suci yang kau
torehkan dikenangan indah masa lalu ku. Subuh itu, disaat (mungkin) teman-teman
seusiaku masih tertidur lelap dengan nyenyaknya, masih dibawah lembutnya
selimut , masih sibuk bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya. Namun, aku terpaksa bangkit dalam indahnya
mimpi tidurku, bangkit disaat dinginnya udara menusuk tajam tulang mungilku, bahkan
bangkit tuk segera membuka mata dengan terpaksa, saat dimana aku harus berlari,
berebut dengan abangku ke kamar mandi tuk berwudhu, dan berlomba untuk shalat
subuh lebih awal dari abang, hanya karena mendengar suara motor ayah yang
pulang dari masjid. Semua itu aku lakukan hanya karena kami tahu persis, manisnya
rasa cubitan cinta mu dan karena kami cukup mengenal rasa hamparan ikat
pinggangmu yang singah dengan runtun waktu yang singkat disepanjang permukaan
kaki ku. Cukup manis rasanya yah, sungguh.. hingga kini kemanisan itu bisa ku
rasa :)
Ayah, aku mencintaimu :) .kau adalah ayah terhebat didunia. Kau tak kan pernah
jemu tuk membangunkan aku dan abang untuk menunaikan shalat subuh diawal waktu.
Banyak sekali cara yang ayah lakukan agar anak-anakmu ini menunaikan perintah
Rabb kita (diawal waktu). Mulai dari menyenandungkan lantunan indah surat
cinta-Nya yang kau bacakan dikupingku, sepenggal ayat qur’an “...yaa bunayya..”
yang kurang lebih artinya “wahai anakku,...
(tunaikan perintah Rabb-Mu)”. Ada juga saat dimana kau harus berpura-pura batuk
dengan volume suara yang cukup besar, sebagai tanda kau menyuruh kami untuk
bangun dan melaksanakan shalat, hingga kami harus terpontang panting berlari
dan berwudhu dalam kondisi ngantuk :D haha... dulu, semua itu aku lakukan
karena semata-mata takut padamu yah. Beneran! Hanya karena takut kepadamu. Kau
adalah ayah terkiller, saat itu. Terimakasih ya yah :) ayah terkiller yang berhasil membuatku
bangga menjadi anak perempuanmu. Ayah terkiller yang akan aku banggakan nanti
dihadapan Rabbku.
Ayah, aku mencintaimu :) . Kini, aku sadar. Bahwa kau memberikan cinta dengan nuansa
cinta yang berbeda. Cinta yang kau
rangkai dengan segenap cara yang kau punya. Cinta yang tak hanya sekedar kata.
Cinta yang tak luput dimakan usia. Cinta yang tak pernah terlupa hingga akhir
menutup mata. Cinta yang terus kau tanam dan selalu kau jaga. Kau ajari kami
untuk mencintai sang pemilik Cinta. Kau ajarkan kami bagaimana menjadi
hamba-Nya yang taat, dan kau ajari kami tuk selalu berpegang kepada syari’at.
Terimakasih, ayahku J
Terimakasih 1, ayahku :)
Terimakasih 2, ayahku :)
Terimakasih 3, ayahku :)
.
.
.
Terimakasih n, ayahku :)
Terimakasih yang tak berhingga untukmu, ayahku.
Ayah, aku mencintaimu :)
No comments:
Post a Comment