Sunday, 7 September 2014

terimakasih yang tak berhingga :)

Ayah, aku mencintaimu :) . Aku tak tahu harus memulainya dari mana . karena rangkaian kata tak kan pernah mampu menyampaikan  sejuta rasa yang ada. Kata hanya sebagai tanda bahwa kisah itu pernah ada. Namun, tak mengapa. Akan aku coba menyampaikan lebih dari sejuta asa yang kurasa. melalui kata sedehana, dengan penuh cinta dari ananda untuk ayahanda.

Ayah, aku mencintaimu :) . Anak gadismu kini sudah duduk dibangku kuliah, semester 7 yah :)  terimakasih atas segala do’a-do’a tulusmu. Hingga kini, aku telah dewasa (dewasa menurut definisi is sendiri yah, hehe)

Ayah, aku mencintaimu :) . Izinkan aku untuk sedikit mengenang  salah satu kisah indah tentang kita melalui rangkaian kata sederhana ini. kisah dimana aku harus tersenyum bahagia tuk membangkitkan ingatanku kembali. Karena ada cinta disetiap kisah kita. cinta suci yang kau torehkan dikenangan indah masa lalu ku. Subuh itu, disaat (mungkin) teman-teman seusiaku masih tertidur lelap dengan nyenyaknya, masih dibawah lembutnya selimut , masih sibuk bergelut dengan mimpi-mimpi indahnya.  Namun, aku terpaksa bangkit dalam indahnya mimpi tidurku, bangkit disaat dinginnya udara menusuk tajam tulang mungilku, bahkan bangkit tuk segera membuka mata dengan terpaksa, saat dimana aku harus berlari, berebut dengan abangku ke kamar mandi tuk berwudhu, dan berlomba untuk shalat subuh lebih awal dari abang, hanya karena mendengar suara motor ayah yang pulang dari masjid. Semua itu aku lakukan hanya karena kami tahu persis, manisnya rasa cubitan cinta mu dan karena kami cukup mengenal rasa hamparan ikat pinggangmu yang singah dengan runtun waktu yang singkat disepanjang permukaan kaki ku. Cukup manis rasanya yah, sungguh.. hingga kini kemanisan itu bisa ku rasa :)
  

Ayah, aku mencintaimu :) .kau adalah ayah terhebat didunia. Kau tak kan pernah jemu tuk membangunkan aku dan abang untuk menunaikan shalat subuh diawal waktu. Banyak sekali cara yang ayah lakukan agar anak-anakmu ini menunaikan perintah Rabb kita (diawal waktu). Mulai dari menyenandungkan lantunan indah surat cinta-Nya yang kau bacakan dikupingku, sepenggal ayat qur’an “...yaa bunayya..” yang kurang lebih artinya  “wahai anakku,... (tunaikan perintah Rabb-Mu)”. Ada juga saat dimana kau harus berpura-pura batuk dengan volume suara yang cukup besar, sebagai tanda kau menyuruh kami untuk bangun dan melaksanakan shalat, hingga kami harus terpontang panting berlari dan berwudhu dalam kondisi ngantuk :D haha... dulu, semua itu aku lakukan karena semata-mata takut padamu yah. Beneran! Hanya karena takut kepadamu. Kau adalah ayah terkiller, saat itu. Terimakasih ya yah :) ayah terkiller yang berhasil membuatku bangga menjadi anak perempuanmu. Ayah terkiller yang akan aku banggakan nanti dihadapan Rabbku.


Ayah, aku mencintaimu :) . Kini, aku sadar. Bahwa kau memberikan cinta dengan nuansa cinta yang berbeda. Cinta yang kau rangkai dengan segenap cara yang kau punya. Cinta yang tak hanya sekedar kata. Cinta yang tak luput dimakan usia. Cinta yang tak pernah terlupa hingga akhir menutup mata. Cinta yang terus kau tanam dan selalu kau jaga. Kau ajari kami untuk mencintai sang pemilik Cinta. Kau ajarkan kami bagaimana menjadi hamba-Nya yang taat, dan kau ajari kami tuk selalu berpegang kepada syari’at. Terimakasih, ayahku J


Terimakasih 1, ayahku :)
Terimakasih 2, ayahku :)
Terimakasih 3, ayahku :)
.
.
.
Terimakasih n, ayahku :)

 
Terimakasih yang tak berhingga untukmu, ayahku. 



Ayah, aku mencintaimu :)



Tuesday, 2 September 2014

Allah diatas segalanya

Sore itu, dikoridor fakultas kita, fakultas MIPA Universitas Andalas. Saat lantunan rintik hujan yang bersenandung. Mengiri langkah kaki aku, kau, kakak itu dan teman-temannya. Ada bait-baik hikmah yang dapat dipetik, ada banyak jutaan pesan tersirat yang dapat kita tangkap. Ada segenggam pelajaran hidup yang dapat dijadikan pedoman dihari depan. Dimana saja, kapan saja , dan dari siapa saja.

Sahabat... satu hal yang mesti kita ingat, bahwa..."Pertolongan terindah adalah pertolongan Allah." Pertolongan yang terkadang kita lupa untuk memintanya. Namun, dengan Cinta dan Kasing Sayang-Nya, Dia selalu ada untuk kita. Hanya saja kita acap kali lupa bahwa ada Allah diatas segalanya. 

Sahabat... lakukanlah segala hal sekuat semampu yang kita usahakan tuk bisa. Tak perlulah terlalu berlebihan tuk berharap uluran, bantuan, apalagi secuil rasa kasihan dari orang lain. Karena... ketika harapan kita tak sama seperti yang kita harapkan, ketika kita masih menyandarkan pertolongan orang lain diatas Sang Penolong yang Sejati... "maka sakitnya itu disini " :D

Pun.. ketika nasi yang dimasak sudah terlanjur menjadi bubur, dan paku yang telah tertancap dikayu... ketika dicabut akan meninggalkan bekas lubang yang tak bisa dikembalikan kebentuk kayu yang sebagaimana mestinya tadi.

... ya sudah lah~

"bukankah memaafkan itu lebih mulia ?"  :)

dan

"bukankah ikhlas itu amalan hati ?" :)

Sahabat...
Semoga Allah mematikan kita disaat kita sudah menerima hidayah secara total .