Tepat pada pukul 09.15
WIB
Treeeeng,,,treeenng
Bel tanda istirahat
berbunyi...
“Baiklah anak-anak,
waktu kita sudah habis, sampai berjumpa besok, dan jangan lupa mengerjakan tugas
kelompok yang tadi ya!” kata Bu Ani mengakhiri mata pelajaran Bahasa Indonesia pagi ini.
“Yaaaa bu...” jawab
siswa-siswanya serentak.
Sebagian besar siswa
beristirahat diluar kelas. Ani, Ami dan Ayi masih terduduk dibangku mereka
masing-masing.
“Hmmm...” Ayi memulai
pembicaraan
“Kenapa?” tanya Ami
“Aku bingung deh dengan
tugas yang dikasih bu Ita tadi” jawab Ayi
“Iya nih, aku juga bingung
yi” sambung Ami
“waduh... jangan bingung
begitu. Tenang saja, aku sudah dapat ide untuk tugas yang diberikan bu Ita tadi” sambung Ani
“Emang apa?” tanya Ayi
dengan penuh penasaran
“Emang masih zaman ya
membahas tentang tokoh bersejarah seperti itu?“ tambah Ami
“hmmm... mengenal para
tokoh pendahulu tak pandang zaman, emang benar jika masa pengabdian mereka
sudah selesai. Tokoh pejuang Indonesia saat ini juga sudah silih berganti. Kita
mesti faham betul bahwa setiap zaman punya pemimpinnya, dan setiap
kepemimpinannya punya sejarahnya masing-masing . Jika kita memahaminya, maka kita
dapat memetik hikmahnya sebagai panduan untuk kita dikemudian hari. Nah... kita
yang masih muda begini,mesti mengetahui tentang itu semua, yah... minimal tau
cerita singkat tentang para pahlawan tanpa tanda jasa seperti itu” Ani
menjelaskan dengan bijaknya.
Perlahan-lahan Ami dan
Ayi menganggukkan kepala tanda setuju dangan penyampaian Ani.
“Kalau begitu, tokoh
siapa yang akan kita presentasikan?” tanya Ayi
“Ibu Raden Ajeng
Kartini “ jawab Ani dengan mantapnya
“Loh, kenapa harus ibu
kartini?” tanya Ami
“Ibu Raden Ajeng
Kartini kan orang besar. Tokoh sejarah” jawab Ani
“Iya sih, tapi aku
belum mengetahui secara keseluruhan tentang beliau” Kata Ami
“Singkatnya.. Ibu
Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya
percaya diri. Jadi, itu poin penting yang akan kita sampaikan nanti didepan
kelas ketika presentasi. Kita mesti faham bahwa ketika penyampaian nanti tidak
hanya sekedar mendapatkan nilai plus saja, namun yang terpenting adalah
menyampaikan pesan yang bermanfaat, baik itu untuk diri kita sendiri maupun
kepada teman-teman agar kita bisa menjadi kartini-kartini di abad 21 ini yang
nantinya berguna bagi bangsa seperti Ibu
Raden Ajeng Kartini.” Jawab Ani dengan lugas
“Wah... kalau begitu
aku mau jadi Kartini di abad 21 ini” Ami berkata dengan semangat.
“Aku juga...aku juga”
kata Ayi tidak mau ketinggalan.
No comments:
Post a Comment